April 27, 2007

Testimoni

”Lembar ini disediakan untuk pengunjung blog yang ingin memberikan kesan dan pesan secara pribadi kepada pemilik blog ini dan isinya bebas, asal dibatasi dengan kesopanan dan kesantunan.
Klik Comment di bawah ini untuk memberikan testimoni dan terima kasih atas perhatiannya”.

April 10, 2007

April 7, 2007

BURUNG PUTIH

Sehabis wiritan selesai salatsuh, ia langsung pamit kepada tuan rumah untuk meninggalkan tempat itu. Tuan rumah menahannya sebentar untuk sarapan. Ia menurut. Habis sarapan ia pamit lagi, menyalami tuan rumah dan anak laki-lakinya yang baru pengantenan tadi malam. Semua yang hadir di langgar itu pada menyalaminya satu persatu.

Sambil mengucapkan salam ia meninggalkan tempat itu. Alhamdulillah, pikirnya semua sudah selesai. Santrinya itu telah menikah kemarin, dan perayaan pengantennya telah dilangsungkan malamnya. Ia datang hanya untuk itu, untuk  memenuhi undangan sang santri dan orangtuanya.kedua orang itu sangat mengharapkan kedatangannya. Dan ia telah hadir.

Ia berjalan meninggalkan halaman itu. Oarang-oarang pada mengantarnya sampai di luar. Sengaja ia memang mau jalan kaki pulang. Ia menolak untuk diantar dengan dokar. Kemarin waktu ia kemari, ia memang dijemput dengan dokar dan ia tidak menolak. Namun sekarang ini ia ingin jalan kaki saja. Sudah biasa jalan kaki dalam jarak yang cukup jauh.

Pagi sudah mulai terang. Matahari tak lam lagi akan sudah tersembul. Udara sejuk dan nyaman. Burung bercericit di mana-mana didedahanan. Makhluk Tuhan yang mungil dan indah itu. Alhamdulillah, segala puji bagi-Mu ya tuhan seru sekalian alam. Engkau yang telah menciptakan semua ini dengan curahan kasih sayangmu. Matahari yang tak lama lagi akan mengintip itu, angin semilir kabut dan embun pagi, burung-burung itu dan makhluk-makhluk mungil lainnya.

Ia berjalan terus ke timur. Langkah-langkahnya cukup cepat dan tetap. Usianya yang sudah enampuluh lebih tak menghalanginya untuk itu. Sudah biasa tiap hari ia jalan kaki cukup jauh,. Alhamdulillah, ia berzikir terus. Mulutnya memang tidak kelihatan komat-kamit, tapi ia terus dalam zikir. Zikir adalah hidupnya, ia selalu berusaha untuk itu. Lekat hubungannya dengan alam, dengan angin, matahari, rumput-rumput, dedaunan, kupu-kupu, capung, dan semuanya dan pencipta semuanya. Sama sekali tak ingin kelekatan itu putus. Dengan itu ia merasa hidup, merasakan kemesraan semuanya, detak jantungnya, desah nafasnya, dan desir aliran darahnya.

Sudah cukup jauh ia berjalan. Sekarang ia sudah tiba di jalanan besar. Ia membelok ke utara, pasar Seronggi di depan, di sebelah kiri jalan. Pagi sudah cukup terang, dan matahari sudah mulai tersembul. Pasar itu mulai ramai dengan orang sebentar ia mampir di pasar itu. Dibelinya sesisir pisang, kemudian ia melanjutkan perjalanannya lagi. Masih sepuluh kilometerlebih ia harus berjalan, sebelum ia sampai di rumah.

Meninggalkan pasar Seronggi ia berjalan lebih cepat lagi, jalan ke utara itu memeng agak menurun. Beberapa belas menit dari situ ia memperlambat jalannya. Sekarang di kanan kiri jalan adalah hutan kecil yang cukup rimbun. Ia tersenyum sebentar sambil meemtik sebuah pisangnya. Seekor kera datang menghampirinya dari pinggir jalan. Ia melemparkan pisang itu, dan binatang itu langsung menangkapnya.

“Maimun. Sudah cukup lam aku tidak datang ke mari ya?”

ia tersenyum lagi. Entah knapa ia ingin saja memanggil kera-kera itu dengan sebutan Maimun atau mungkin karena ia dulu sering mendengar teman-temannya orang arab memanggil kera itu dengan nama itu. Itu beberapa puluh tahun yang lalu, tatkala ia masih mengaji di Masjidil Haram. Masa-masa mudanya dulu, tatkala ia menutut ilmu dengan segala manis getirnya.

      “Sekarang aku sudah sibuk sekali dengan santri-santriku”.

      Seekor kera datang mendekat lagi. Ia lemparkan lagi sebatang pisang .

      “Aku baru saja datang menghadiri pengantenan seorang santriku. Mereka menghendaki aku harus datang”.

      Kera itu segera mengupas pisang yang baru saja ia lemparkan dan kemudian melahapnya.

      “Hei. Apa sudah kau sebut bismillah sebelum makan pisang itu, maimun?”ia sambil tersenyum.

      Kera itu terus saja melalap buah itu.

      “Kan Dia yang memberi nikmat semua ini, yang memberi nikmat pisang ranum itu.”

      Dua ekor kera datang lagi. Ia lemparkan dua batang pisang sekarang.

      “Hm, agaknya kalian belum sarapan pagiini. Hei, mana anak-anakmu, maimun?”

      Seekor kera datang dari seberang jalan sana, dibelakangnya menyusul dua ekor kera kecil.

      “Hei hati-hati menyebrang jalan, awas ada kereta atau dokar!”

      Ia lemparkan tiga batang pisang ke pinggir dari tengah jalan.

      “Itu anak-anakmu atau cucu-cucumu?”

      “Ooya cucuku sekarang sudah mulai besar. Sudah belajar di pesantren Guluk-guluk sekarang.”

      Beberapa ekor kera datang lagi. Ia lemparkan pisang-pisangnya sampai habis. Lalu ia mempercepat langkahnya sambil tersenyum-tersenyum. Ia menyebrangi sebuah jembatan sekarang. Habis jembatan, di kanan-kirinya tampak hamparan tambak garam sejauh mata memandang. Tambak-tambak itu masih penuh air sekarang ini, belum kering. Kalu sudah kering nanti, semuanya tampak memutih. Garam itu nantinya ditumpuk menjadi bukit-bukit kecil, lalu diangkut ke pabrik untuk dibersihkan dan dibuat jadi kotak-kotak yang siap untuk dijual.

      Ia mempercepat jalanya sekarang. Sarungnya yang putih berkotak-kotak hitam tipis, baju lengan panjangnya yang juga putih dan serbanya yang putihberkibar-kibar oleh angin. Seperti seekor burung putih ia meluncur cepat di tanah yang datar itu. Matahari sudah mulai naik. Ia makin mempercepat langkahnya. Jalanan memang sepi. Dan beberapa puluh menit kemudian pinggiran kota sudah mulai tampak di hadapannya.

      Saat berikutnya itulah, saat ia mulai menapak pinggiran kota, sebuah kereta meluncur dari depan. Sebuah dokar dengan seekor kuda tegap besar. Sang kusir agaknya memang membiarkan kuda itu berlari kencang. Seorang penumpangnya duduk bersandar di bagian belakang.

      Tiba-tiba sang penumpang berteriak keras dan geram:

      “berheti! Cepat berhenti!”

      sang kusir dengan sigap cepat menarik tali kekang. Kuda itu berhenti seketika.

      “Siapa sih orang itu?”

      “Kurang tahu, tuan!”

      “Bangsat kurang ajar dia! Tidak mencopot sandalnya saya sedang lewat!tidak mau hormat sama saya! Tidak mau berhenti dam tidak menunduk lagi!”

      sang penumpang turun dari dokarnya. Agaknya ia seorang yang berkedudukan, seorang bangsawan.

      “Panggil oaring itu ke mari!”

      sang kusir juga turun dan memanggil orang itu.

      “Pak!Pak haji!”

      laki-laki tua yang dipanggil itu menoleh dan mangangkat wajahnya.

      “Cepat ke mari!”

      Laki-laki itu mendekap beberapa langkah.

      “Ya, ada apa?”

      “Tidak tahu saya lewat di depan matamu heih?”

      “Saya tahu. Tapi ada apa?”

      “kau tidak mencopot sandalmu selagi aku lewat!kau kurang ajar tak mau menghormatiku yah?”

      “Maaf. Apa saya memang harus berheti di pinggir sambil menunduk!”

      “Hm, saya tidak tau”.

      “Tidak tahu siapa saya heih?”

      laki-laki tua itu mengangkat wajahnya lagi, menatap laki-laki yang berang itu beberapa saat.

      “Maaf. Saya tidak tahu. Dan saya tidak bermaksud tidak hormat kepada tuan”.

      “Bangsat bedebah! Mana cambuk kuda itu!”

      Tiba-tiba bangsawan itu begitu beringasan. Memecutkan cambuknya berkali-kali kepada laki-laki tua itu.

Laki-laki itu mencoba mundur ke belakang. Sang bangsawan menghantamkan gagang cambuknya beberapa kali ke kepala si laki-laki tua. Laki-laki itu tersungkur ke tanah. Mulutnya berdarah sedikit. Agaknya sang bangsawan sudah cukup puas kini. Ia naik kembali ke dokarnya dan meluncur meninggalkan tempat itu.

            “Ya Allah. Masih ada saja manusia yang begitu angkuh dan merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain.”

            Laki-laki itu bangkit sambil menghapus mulutnya, lalu melangkah memasuki kota.

            “Itu mungkin karena ketidak-tahuannya saja.”

            Di tengah kota ia membelok ke kiri, menuju pinggiran kota bagian barat. Tak begitu jauh dari pinggiran itu terletak rumahnya, dengan sebuah langgar dan pesantrennya. Ia sudah melupakan laki-laki yang memukulnya tadi. Hari-harinya kemudian disibukkan kembalinya oleh santri-santrinya.

            Namun, tiga hari sesudah itu ia smpat jadi terbelalak heran melihat dokar yang tempo hari itu memasuki halaman pesantren. Tiga orang penumpangnya sekarang, si kusir, laki-lakiyang tepo hari memukulinya dan seorang laki-laki lagi. Mereka mengucapkan salam dan turun dengan takzimnya.

            “Mohon maaf seribu maaf, pak kiai” kata kusir itu sambil menunduk-nunduk.

            “Ada apa?”

            “Raden panji braja sejak hari itu tidak bisa bicara sepatah pun. Mulutnya seperti terkunci rapat.”

            “Kenapa?”

            “Hmitusesampainya di rumah sehabis memukul pak kiai. Mohon maaf seribu maaf, hanya kiai yang bisa menyembuhkannya.”

            “Ya, kami mohon maaf sebesar-besarnya atas perbuatan tak senonoh kakak kami,” kata laki-laki yang satunya.

            “Tidak apa-apa. Saya telah melupakannya, saya telah memaafkannya. Bawa saja ia ke langgar.”

            Pela-pelan laki-laki yang tak bisa bersuara satu patah pun itu di bawa ke langgar. Ia memeluk sang kiai menyuruhnya ambil air sembahyang, kemudian salat sunnat du rakaat. Habis salat sang kiai menghapus-hapus kepala laik-laki itu beberapa kali. Tiba-tiba laki-lakiitu membuka mulutnya dan bersuara.

            “Tidak apa-apa, saya telah memaafkan bapak. Minta ampunanlah selalu kepada tuhan “.

            “Saya telah bersalah besar kepada pak kiai”, laki-laki itu sambil menangis dan mencoba mencium tangan si laki-laki tua. Namun yang terakhir tangannya dan malah mengelus-elus pundak laki-laki yang menangis itu.

            “kembalillah ke rumah. Bapak sudah tidak apa-apa.”

            “ya. Dan kalau sekiranya boleh, perkenankan saya ikut mengaji kepada pak kiai.”

            “Di sini kami selalu terbuka kepada siapa saja dan kapan saja”.

            “Saya sungguh menyesal sekali atas kelakuan saya. Saya tidak tahu”.

            “Kita semua selalu punya ketidak-tahuan”.

            “Selama ini saya selalu angkuh dan sombong”.

            “Kita semua kan hanya hamba tuhan”.

            “Bisa saya diampuni oleh Yang Maha Kuasa?”

            “Ia maha pengampun selalu”.

            Hari itu laki-laki itu pulang dengan penuh hormat dan takzim. Sejak itu pula setiap sore ia selalu salat asar di situ dan lalu ikut mendengarkan pengajian. Dan sang kiai juga cukup senang telah memperoleh seorang santri baru.

  

         

February 23, 2007

Hello world!

Welcome to your new blog. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

An email has been sent to you giving you details of how to log in to the administration section. From there you can change the design by clicking on the tab MANAGE and then click on the tab THEMES. If you have any questions, ask them in the forums — we are only too willing to help.